Selasa, 14 Juni 2011

Gara-gara Jupiter, Ukuran Mars Jadi Kerdil, Kenapa ukuran planet Mars Lebih kecil dari Bumi, Akibat Jupiter, Ukuran Mars kecil

Dari simulasi komputer dan laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature, diketahui bahwa planet Mars selesai terbentuk 2 sampai 4 juta tahun lebih cepat dibandingkan dengan Bumi. Ini memperkaya informasi mengapa ukuran planet itu sangat kecil.

Sebagai informasi, planet Bumi terbentuk dalam waktu 50 sampai 100 juta tahun. Adapun Mars, yang terbentuk dalam waktu lebih cepat, hanya memiliki massa 11 persen dari massa Bumi.
Penyebab dari semua fenomena tersebut adalah migrasi yang dilakukan oleh planet Jupiter.


Perbandingan ukuran planet Venus, Bumi, dan Mars
“Jika Jupiter bergerak dari tempatnya ke jarak 1,5 AU (1 AU adalah 1x jarak Matahari-Bumi) dari Matahari dan kembali ke posisi awal, maka pergerakan planet itu memengaruhi kepadatan bahan-bahan pembentuk planet di kawasan tata surya,” kata Kevin Walsh, peneliti dari Southwest Research Institute, dikutip dari Astronomy Now, 13 Juni 2011.

Seperti gambaran, saat ini Jupiter berada di posisi 5,2 AU. Namun dari model simulasi komputer, terindikasi bahwa planet-planet luar milik tata surya berpindah-pindah orbit sebelum menempati posisi permanen mereka saat ini. Saat mereka berpindah, mereka meredistribusi materi yang ada di tata surya.

Perpindahan planet Jupiter ke posisi yang mendekati posisi Bumi dan Mars saat ini membuat material pembentuk planet yang ada di kawasan itu berpindah. Akibatnya, Mars yang juga sedang berusaha membentuk dirinya kekurangan bahan baku.

Pergerakan planet Jupiter yang berangkat mendekati Matahari saat tata surya masih berusia muda dan kembali ke posisinya dan mengacak-acak material yang ada di sekelilingnya juga menjelaskan, mengapa bebatuan dan meterial yang ada di sabuk asteroid terdiri dari unsur yang berbeda-beda.

“Teka-teki besar ini perlahan-lahan mulai terpecahkan,” kata Walsh. “Simulasi menunjukkan bahwa migrasi Jupiter konsisten dengan kehadiran sabuk asteroid dan juga menjelaskan kandungan sabuk yang sebelumnya tidak bisa dipahami,” ucapnya.

Seperti diketahui, sabuk asteroid terdiri dari material acak antara lain bebatuan kering dan bebatuan yang mengandung air. Saat Bumi terbentuk, Bumi juga tidak mungkin memiliki air. Adapun penyebab hadirnya air kemungkinan adalah karena material yang ada di sabuk asteroid yang mengandung air, mendarat di Bumi akibat pengaruh pergerakan Jupiter.

Gara-gara Jupiter, Ukuran Mars Jadi Kerdil, Kenapa ukuran planet Mars Lebih kecil dari Bumi, Akibat Jupiter, Ukuran Mars kecil

Sabtu, 11 Juni 2011

Halicephalobus Mephisto, Cacing yang Mampu Hidup Ribuan Meter di Bawah Tanah

Seekor cacing ditemukan hidup ribuan meter di bawah permukaan Bumi, menjadikannya sebagai hewan yang hidup di bawah permukaan Bumi terdalam, ungkap sebuah penelitian terbaru.

Seperti yang dikutip dari National Geographics, Sabtu (4/6/2011), spesies cacing bernama Halicephalobus Mephisto tersebut diklaim sebagai hewan yang hidup di bagian terdalam Bumi.

Sebelum menemukan Halicephalobus Mephisto, diketahui bahwa Nematodes adalah hewan (sejenis cacing) yang bisa hidup di kedalaman tanah lebih dari 10 meter. Selain hewan, hanya mikroba yang bisa hidup di bawah kedalaman tanah.


Halicephalobus Mephisto

Seperti yang diketahui, Halicephalobus Mephisto ditemukan hidup di sebuah tambang emas di Afrika Selatan dengan kedalaman 3,6 kilometer.

"Hewan ini berukuran jutaan kali lebih besar dari bakteri yang hidup di bawah tanah. Hal inilah yang menjadikannya sebuah temuan besar," Tullis Onstott, seorang ahli geomicrobiologist dari Princeton University di New Jersey.

Meskipun begitu tim peneliti belum yakin apakah cacing tersebut sudah diketahui sebelumnya oleh para penambang. Untuk mengetahuinya, Onstott dan ahli nematologist Gaetan Borgonie dari Ghent University di Belgia menyelidiki tambang tersebut dalam kurun waktu satu tahun.

Temuan para peneliti tersebut menyatakan bahwa cacing tersebut sudah ada di sana sejak ribuan tahun silam, sekira 3 ribu sampai 12 ribu tahun. Membuktikan pula bahwa hewan tersebuttahan terhadap panas kedalaman Bumi serta tekanannya.

Halicephalobus Mephisto, Cacing yang Mampu Hidup Ribuan Meter di Dalam Tanah, Halicephalobus Mephisto

Ilmuwan Swedia Berhasil Ciptakan Cahaya dari Ketiadaan

Sekelompok ilmuwan dari Chalmers University of Technology di Gothenburg, Swedia berhasil mencipatakan cahaya dari ketiadaan. Mereka menciptakan cahaya di ruang hampa, sebuah ruang yang selama ini dipercaya benar-benar kosong. Minggu depan, para ilmuwan tersebut akan mempresentasikan hasil penelitiannya di konferensi di Padua, Italia. Saat ini, paper yang belum ditinjau kembali sudah diunggah ke situs arXiv.org.

Dasar teori yang digunakan dalam penelitian ini memang rumit, namun sangat menarik untuk disimak. Berdasarkan publikasi di webiste Nature pekan lalu, penelitian ini berpusat pada teori mekanika kuantum yang menyatakan bahwa ruang hampa tidaklah benar-benar kosong, tetapi terdiri atas partikel yang hanya eksis dalam waktu singkat, disebut partikel virtual.

Jika dua buah cermin kecil ditempatkan sangat berdekatan di ruang hampa, maka jumlah partikel virtual di antara 2 cermin akan menjadi lebih rendah daripada di luarnya. Sebagai konsekuensinya, akan tercipta gaya tarik antar cermin yang mendekatkannya satu sama lain. Gaya ini bisa digunakan untuk menghasilkan partikel "nyata" yang dalam konteks cahaya disebut foton.

Selama puluhan tahun, ilmuwan mempercayai bahwa efek yang sama bisa dilakukan dengan menggunakan satu cermin yang digerakkan. Dengan langkah itu, cermin bisa menyerap energi dari partikel virtual dan mengemisikannya lagi dalam bentuk partikel "nyata". Tapi, langkah ini hampir tidak mungkin sebab kecepatan gerak cermin disyaratkan mendekati kecepatan cahaya.

Dalam eksperimen membuktikan teori tersebut, peneliti bernama Per Delsing dan rekannya menyiasati ketidakmungkinan dengan menggunakan perangkat dinamakan Superconducting Quantum Interference Device (SQUID) yang sangat sensitif terhadap medan magnet. Peneliti kemudian 'melewatkan' medan magnet sehingga SQUID yang berfungsi seperti cermin bergerak dengan kecepatan 5 persen kecepatan cahaya.

Hasilnya, foton cahaya benar-benar tercipta. Berdasarkan analisa, frekuensi gelombang cahaya yang tercipta adalah setengah frekuensi gerakan SQUID. Meski paper-nya belum ditunjau ulang, kalangan ilmuwan memuji keberhasilan ini. Seperti yang dikatakan pakar fisika eksperimental Harvard University, Frederico Capasso, "Ini adalah kemajuan besar."

Karena jumlah foton cahaya yang tercipta lewat eksperimen ini masih sedikit, aplikasi hasil eksperimen ini pun masih di awang-awang. Tapi, dilansir di Physorg.com, menyatakan, jika terbukti berhasil, maka hasil eksperimen ini bisa membantu menemukan sesuatu yang lebih berguna, misalnya menghasilkan energi di ruang hampa sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendukung penjelajahan semesta.

Ilmuwan Swedia Berhasil Ciptakan Cahaya dari Ketiadaan