Kamis, 16 Februari 2012

Berhasil Dibuat, Prediksi Badai Matahari Paling Akurat

NASA Ledakan Matahari yang terjadi pada Senin (23/1/2012) pukul 10.59 WIB.
CALIFORNIA, KOMPAS.com — Ilmuwan di Goddard Space Flight Center NASA berhasil mengembangkan prediksi badai Matahari paling akurat. Penyimpangan (error) dalam prediksi tersebut hanya 13 menit. Prediksi itu berhasil dibuat untuk meramalkan waktu lontaran massa korona (CME) dari ledakan Matahari pada Senin (23/1/2012) pukul 10.59 WIB mencapai Bumi.

"Kami memprediksi CME sampai pukul 09.18  dan kenyataannya CME sampai pukul 09.31, jadi prediksi kami cuma error 13 menit," kata Yihua Zheng, peneliti di Goddard Space Flight Center NASA.

Berdasarkan Waktu Indonesia Barat, badai Matahari diperkirakan sampai ke Bumi pada Selasa (24/1/2012) pukul 21.18 WIB, dan nyatanya sampai pada pukul 21.31 WIB. Zheng, seperti dikutip Space, Rabu (25/1/2012), menambahkan, "Biasanya model peramalan ini memiliki error sekitar 7 jam. Jadi ini adalah yang terbaik."

Perkiraan badai Matahari berhasil dibuat dengan mengandalkan data dari wahana Solar Dynamics Observatory, Solar Heliosphere Observatory (SOHO), dan STEREO.  "Dengan menggabungkan informasi dari beragam sudut pandang, kita bisa menentukan karakteristik CME dengan baik, seperti kecepatan dan arah. Kita masukkan dalam model dan kita dapat prediksinya," urai Zheng.

Prediksi yang akurat amat penting. Dengan demikian, bisa dibuat peringatan dini akan dampak badai Matahari, seperti informasi meteorologi tentang hujan, badai, dan sebagainya. Saat ini, dan di masa depan, di mana penerbangan antariksa direncanakan, prediksi ini juga diperlukan untuk mengetahui wahana atau pesawat mana yang terancam.

Di luar angkasa, dampak badai Matahari bisa lebih besar. Contoh, radiasi sinar UV selama badai Matahari bisa meningkat ribuan kali dari biasanya. 

Tak ketinggalan dengan luar negeri, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pun turut serta mengamati aktivitas Matahari dan memperkirakan badai Matahari dan dampaknya. Ledakan Matahari pada Senin lalu menjadi catatan tersendiri karena masuk dalam kelas M-9 dan merupakan terbesar dalam 7 tahun terakhir, atau sejak tahun 2005.

Hingga 2013 mendatang, frekuensi terjadinya badai Matahari akan meningkat akibat aktivitas Matahari setiap 11 tahun sekali yang memuncak pada tahun tersebut.  Prediksi badai Matahari bisa memberi peringatan dini bagi warga Bumi. Warga Bumi harus waspada terhadap beragam konsekuensi, seperti terganggunya komunikasi dan navigasi.

11 Tata Surya Baru Ditemukan

NASA Ilustrasi tata surya dan planet hasil temuan terbaru Kepler.
CALIFORNIA, KOMPAS.com — Sejumlah 11 tata surya baru yang memiliki jumlah total 26 planet ditemukan. Penemuan dideskripsikan di empat karya tulis berbeda di Astrophysical Journal dan Monthly Notice of the Royal Astronomical Society bulan ini.

Penemuan bisa dilakukan berkat jasa wahana antariksa Kepler. Dengan penemuan ini, Kepler telah mengonfirmasi 61 planet dan menemukan 2.300 kandidat planet. Penemuan sekaligus menegaskan bahwa Bimasakti dipadati tata surya dan planet.

Tata surya yang berhasil ditemukan disebut Kepler 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, dan 33. Tiap-tiap tata surya punya dua sampai lima planet. Jarak planet dengan bintang di tiap tata surya relatif dekat dengan waktu orbit berkisar dari 6-143 hari.

Lima tata surya (Kepler 25, 27, 30, 31, dan 33) punya dua planet. Satu kali revolusi planet terluar sama dengan dua kali revolusi planet terdalam. Empat tata surya lain (Kepler 23, 24, 28, 32) punya dua planet. Planet terluar mengorbit bintang dengan waktu tiga kali lebih lama dari planet terdalam.

Tata surya yang memiliki planet terbanyak adalah Kepler 33. Bintang pada tata surya ini lebih tua dan masif dibandingkan Matahari serta memiliki planet yang jarak orbitnya relatif dekat.

Ukuran planet yang terdapat di 11 tata surya tersebut bervariasi, antara seukuran Bumi hingga lebih besar dari Jupiter. Namun, masih harus diteliti lagi apakah planet tersebut merupakan planet batuan seperti Bumi dan memiliki atmosfer.

Tata surya dan planet ditemukan dengan metode planet transit, yakni melihat kedipan cahaya bintang akibat adanya planet yang lewat di mukanya. Verifikasi planet dilakukan dengan teknik variasi waktu transit.

Sejumlah peneliti yang terlibat penemuan ini adalah Eric Ford dari Universitas Florida, Dan Fabrycky dari Universitas California, Jason Steffen dari Fermilab Center for Particle Astrophysics, dan Jack Lissauer dari NASA.

Setelah 20 Tahun, Akhirnya Menemukan Danau Purba

Setelah pengeboran selama lebih dari 20 tahun, para ilmuwan Rusia akhirnya berhasil mengungkapkan adanya saluran vertikal menuju ke Danau Vostok, sebuah danau air tawar purba yang terkubur selama sekurang-kurangnya 15 juta tahun pada kedalaman lebih dari 2 mil di bawah permukaan es. Pengeboran dimulai sejak tahun 1989—bahkan sebelum para ilmuwan mengkonfirmasi adanya danau sepanjang 160 mil tersebut—dan “pengeboran itu berlarut-larut karena kekurangan dana, rusaknya peralatan, dan suhu yang sangat dingin,” demikian disampaikan Vladimir Isachenkov kepada Associated Press. 
Akhirnya penggalian itu berhasil juga. Andrea Mustain di Scientific American menyebutkan, “alat pengebor menyentuh lapisan es cair di bawah lapisan es yang kokoh dan mencapai air danau yang tawar dan tidak beku.”
article 2095193 119D706F000005DC 438 634x355 Setelah 20 Tahun, Akhirnya Menemukan Danau Purba 
Kandungan air di Vostox sama dengan Danau di Ontario 

Apakah danau itu sangat dingin?
Ternyata tidak. Suhu di permukaan di Stasiun Vostok station tempat para peneliti bekerja adalah “paling dingin yang tercatat di bumi,” mencapai minus 128 derajat Fahrenheit, kata Isachenkov. Tapi danau bawah air itu sendiri diyakini cukup hangat, berkat adanya “tekanan kuat kerak es dan energi geotermal energy dari bawah.”
 article 2095193 118E3ADB000005DC 89 634x373 Setelah 20 Tahun, Akhirnya Menemukan Danau Purba
Danau Vostok terlihat dari satelit. Suhu di tempat ini sangat dingin bisa mencapai -66C

Apakah yang menjadikan danau itu begitu berharga?
Terutama karena adanya prospek penemuan kehidupan baru yang belum tersentuh. Makhluk apapun yang hidup di danau itu telah terkubur dan tersembunyi selama jutaan tahun. “Seperti menjelajahi planet lain, tetapi sebenarnya masih di planet kita,” kata Robin Bell dari Columbia University kepada Associated Press. 
Tentu saja, pengeboran ini bisa menjadi awal yang baik untuk kegiatan pengeboran yang mungkin saja dilakukan di planet-planet lain, dan “sangat berharga untuk mempelajari kemungkinan kondisi di bulan Jupiter (Europa) atau Saturnus (Encedadus),” yang juga tertutupi oleh lapisan-lapisan es yang tebal, kata Marc Kaufman di Washington Post.
article 2095193 119D7181000005DC 271 306x453 Setelah 20 Tahun, Akhirnya Menemukan Danau Purba
Lantas, apakah semua sepakat bahwa ini adalah projek yang bermanfaat?
Tidak juga. “Upaya yang telah dilaksanakan selama puluhan tahun tersebut telah mengundang kontroversi terkait bahan-bahan kimia dan teknik-teknik yang digunakan dalam pengeboran,” kata Kaufman. Sebagian ilmuwan mengkhawatirkan Danai Vostok yang “perawan” itu akan ternoda oleh bahan-bahan kimia yang digunakan dalam pengeboran, termasuk kerosin dan Freon.